Pantai Teluk Rhu Pulau Rupat
Posted by Unknown Alam, NewsUpdate, Wisata Alam, WisataAlam 04.57![]() |
| Pantai Teluk Rhu, Tanjung Medang, Pulau Rupat |
PUTRIDUMAI.COM - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia
(PHRI) Dumai beserta pengurus dan anggota, kamis (24/01/13) mengadakan
kunjungan study wisata ke Pantai Teluk Rhu, Tanjung Medang, Pulau Rupat
Kab Bengkalis. Sebanyak 22 peserta yang mengikuti kunjungan wisata ini
terdiri dari Ketua PHRI Dumai, General Manager Hotel dan beberapa
pemilik Hotel yang ada di Dumai, keberangkatan menuju Pantai Teluk Rhu
di mulai dari pelabuhan Dumai dengan menggunakan Speedboat.
PHRI sendiri merupakan organisasi yang perhotelan yang memposisikan
diri dalam upaya menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi indsustri
pariwisata Indonesia maupun korporasi yang berkecimpung dalam usaha
perhotelan dan restauran, tentunya melalui perwakilan-perwakilan yang
ada di setiap kota, termasuk kota Dumai.
Kepada riaugreen.com salah satu pantia kunjungan wisata, Ari Noor
selaku Grand Manager Hotel Sri Kembar Resort Dumai menjelaskan bahwa
Tujuan PHRI melakukan kunjungan study wisata ke pantai Teluk Rhu ingin
melihat sejauh mana potensi yang dimiliki pulau rupat dalam hal
kepariwisataan, khususnya pantai. dan ternyata pantai teluk Rhu ini
merupakan Pantai Pasir Putih yang sangat potensial untuk dijadikan ikon
wisata Tanjung Medang, Rupat, ungkapnya.
"Pemandangan yang ada dipantai Teluk Rhu sungguh menakjubkan, struktur
kepadatan pasir pantai keras, landai, luas, bersih. Airnya jernih dan
bening, dan ombaknya kecil, sangat aman untuk anak-anak bermain.
Ekosistem yang ada disekitar pesisir pantai pun masih alami,
Burung-burung pantai dan jutaaan kepiting kecil masih banyak ditemui di
sepanjang pantai" ujar Arie.
Lokasi pantai Teluk Rhu sangat berdampingan dengan permukiman warga,
sehingga keamanan didukung oleh warga setempat. Disepanjang pantai
tumbuh berderet Pohon Cemara Udang, hal ini membuat sepanjang pantai
Teluk Rhu menjadi sejuk dan rindang, sehingga pengunjung bisa duduk
berlindung menikmati Pemandangan laut luas.
"Saya melihat Pantai Teluk Rhu sangat berpotensi untuk destinasi wisata,
sebagai sarana untuk event olah raga, memancing, adventure, ground
handling, Camping, Outing Karyawan, Bahkan akan mampu untuk
penyelenggaraan event nasional seperti layang-layang, Aeromodeling,
Gantole, dll. Fasilitas umum sudah dibangun tapi sayang tidak dirawat
atau disempurnakan oleh pemko setempat" tambah Arie lagi.
Pengunjung juga bisa dengan mudah menemukan pemandu wisata yang ada di
sekita lokasi, salah satunya dikoordinir oleh Bp. Rusli seorang wargra
Teluk Rhu, Rt 05 Rw 03 Dusun Ombak, Kecamatan Rupat Utara.
Pantai Teluk Rhu sendiri merupakan pantai yang memanjang dari timur ke
barat dan berhadapan langsung dengan Tanjung Rusa di Port Dickson –
Malaysia. Daerah pantai yang memiliki kelompok tanah mineral dengan
tingkat perkembangan muda, baik dengan ciri hidromorfik maupun tanpa
ciri hidromorfik. Pantai Utara ini dapat melihat kapal-kapal nasional
dan internasional yang melintas, hal ini didukung keadalaman laut yang
memiliki sekitar 10-30 meter kedalaman.
Transportasi menuju Pulau Rupat sendiri sebenarnya sudah lancar dengan
tersedianya kapal speedboat, kapal RORO, maupun kapal pompong dari
beberapa pelabuhan lain menuju Rupat. Dari Pelabuhan TPI Dumai tersedia
kapal speedboat menuju Pelabuhan Tanjung Medang Rupat dengan ongkos yang
tidak beitu mahal dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Kemudian ada juga
kapal RORO dari Dumai menuju pelabuhan Tanjung Kapal di Rupat Selatan
yang dapat melanjutkan perjalanan darat menuju Teluk Rhu. Rute
perjalanan lainnya adalah menggunakan speedboat dari Bengkalis menuju
pelabuhan Tanjung Medang maupun kapal pompong yang akan berlabuh di
Kadoor. (r1)
“Menjamu Laut” Sebagai Tradisi Melestarikan Budaya Bahari di Dumai
Posted by Unknown NewsUpdate, Wisata Alam 22.13
DUMAI, RIAUGREEN.COM – Untuk melestarikan budaya lokal Pemerintah kota Dumai melalui Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan menggelar acara “Menjamu Laut” yang dilaksanakan di Pelabuhan Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Kelurahan Purnama Kecamatan Dumai Barat, Kamis (27/12). Kegiatan “Menjamu Laut” sebagai tradisi melestarikan budaya bahari dilaksanakan dalam rangka Hari Nusantara Nasional ke-13.
Walikota Dumai, Khairul Anwar, berharap kegiatan atau tradisi “Menjamu Laut” agar terus diperingati dan dijadikan iven budaya yang dilaksanakan setiap tahunnya. Sebab, tradisi tersebut merupakan tanda kepedulian dalam melestarikan budaya dan tradisi masyarakat terdahulu yang perlu dilestarikan. Pada kesempatan tersebut walikota juga menyerahkan bantuan dana bagi masyarakat nelayan yang ada di Dumai.
“Menjamu Laut”, dilaksanakan sebagai suatu tradisi untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas karunia yang diberikan kepada masyarakat nelayan, Tradisi ini sudah dilaksanakan sejak puluhan tahun lalu dan tradisi ini juga untuk mengikat tali silahturahmi antara masyarakat dengan Pemko Dumai, “sebut Khairul.
Tambah Khairul, pantai dan laut serta berbagai sumber daya yang terkandung didalamnya ini memberikan banyak manfaat bagi manusia untuk memenuhi kebutuhannya serta demi pencapaian kesejahteraan hidup.
Selain itu, katanya, wilayah ini memiliki peranan penting sebagai sumber pangan, media transportasi, sumber energi, pertahanan dan keamanan, kawasan wisata bahari, dan menjadi kawasan berbagai aktivitas manusia lainnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kota Dumai, Syafrizal mengatakan, sempena Hari Nusantara tahun ini telah dilakukan berbagai kegiatan diantaranya, bersih pantai, tanam mangrove dan lomba mewarnai untuk tingkat Taman Kanak-kanak (TK) dan saat ini digelar pula tradisi menjamu laut.
“Hari Nusantara merupakan kegiatan nasional, didaerah lain juga digelar berbagai tradisi atau ritual yang dilakukan dilaut, namun namanya mungkin berbeda-beda, di Dumai sendiri namanya menjamu laut, “terang Syafrizal.
Menurut Syafrizal, banyak dikalangan masyarakat pesisir pantai saat ini sudah tidak mengenal lagi tradisi ini, karena telah lama sekali tidak diadakan. Ritual atau budaya ini perlu dipertahankan agar tradisi ini tidak hilang begitu saja.
“Tradisi atau budaya laut yang pernah dilakukan para leluhur terdahulu, dengan sebutan menjamu laut untuk sajian kepada laut sebagai tempat mencari rezeki untuk menangkap ikan, “ujar Syafrizal.Ketua Pecinta Alam Bahari (PAB) Darwis Muhammad Saleh Dalam Sambutannya mengatakan, bahwa acara bejamu laut ini sudah menjadi sebuah budaya yang mengandung nilai-nilai luhur, dan ritual ini dapat menjadi sebagai objek Wisata yang unik, seperti pada bulan Januari 2011 budaya ritual bejamu laut dilaksanakan untuk pertama kali di daearah laut Dumai bertempat di Desa Pendepul kelurahan Basilam Baru kecamatan Sungai Sembilan.
" Bejamu laut ini merupakan simbol kesadaran orang melayu terhadap laut sebagai tempat halaman mencari makan, diekspresikan lewat budaya bejamu laut atau menghidangkan sesajian yang dibuat oleh Datuk (Pawang) sebagai rabitah yang punca permohonan tetap kehadirat Allah SWT, agar alam laut sebagai lapak usaha dapat membawa berkah dengan hasil yang melimpah,"ujarnya.
Menurut dia, sejarah bejamu laut yang terkenal adalah ketika ritual tersebut dilaksanakan di daerah Tanjung Jati daerah Rupat kabupaten Bengkalis. Saat itu, ritual budaya bejamu laut dipimpin langsung oleh pemimpin armada pertahanan kerajaan Siak Sri Indrapura yang bernama Daeng Taugek atau yang lebih dikenal dengan nama Datuk Laksamana Raja Dilaut, ”jelasnya.
Ikut hadir pada kesempatan tersebut Ketua DPRD Kota Dumai, Zainal Effendi, Kepala Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Propinsi Riau, H. Irwan Effendi, Kepala Dinas Pariwisata, Eldar Efinta, Kapolres Dumai, Ristiawan Bulkani, pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Dumai, Camat dan Lurah, serta undangan dari perwakilan perusahaan BUMN dan swasta. (*/r1/Ocu)
Walikota Dumai, Khairul Anwar, berharap kegiatan atau tradisi “Menjamu Laut” agar terus diperingati dan dijadikan iven budaya yang dilaksanakan setiap tahunnya. Sebab, tradisi tersebut merupakan tanda kepedulian dalam melestarikan budaya dan tradisi masyarakat terdahulu yang perlu dilestarikan. Pada kesempatan tersebut walikota juga menyerahkan bantuan dana bagi masyarakat nelayan yang ada di Dumai.
“Menjamu Laut”, dilaksanakan sebagai suatu tradisi untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas karunia yang diberikan kepada masyarakat nelayan, Tradisi ini sudah dilaksanakan sejak puluhan tahun lalu dan tradisi ini juga untuk mengikat tali silahturahmi antara masyarakat dengan Pemko Dumai, “sebut Khairul.
Tambah Khairul, pantai dan laut serta berbagai sumber daya yang terkandung didalamnya ini memberikan banyak manfaat bagi manusia untuk memenuhi kebutuhannya serta demi pencapaian kesejahteraan hidup.
Selain itu, katanya, wilayah ini memiliki peranan penting sebagai sumber pangan, media transportasi, sumber energi, pertahanan dan keamanan, kawasan wisata bahari, dan menjadi kawasan berbagai aktivitas manusia lainnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kota Dumai, Syafrizal mengatakan, sempena Hari Nusantara tahun ini telah dilakukan berbagai kegiatan diantaranya, bersih pantai, tanam mangrove dan lomba mewarnai untuk tingkat Taman Kanak-kanak (TK) dan saat ini digelar pula tradisi menjamu laut.
“Hari Nusantara merupakan kegiatan nasional, didaerah lain juga digelar berbagai tradisi atau ritual yang dilakukan dilaut, namun namanya mungkin berbeda-beda, di Dumai sendiri namanya menjamu laut, “terang Syafrizal.
Menurut Syafrizal, banyak dikalangan masyarakat pesisir pantai saat ini sudah tidak mengenal lagi tradisi ini, karena telah lama sekali tidak diadakan. Ritual atau budaya ini perlu dipertahankan agar tradisi ini tidak hilang begitu saja.
“Tradisi atau budaya laut yang pernah dilakukan para leluhur terdahulu, dengan sebutan menjamu laut untuk sajian kepada laut sebagai tempat mencari rezeki untuk menangkap ikan, “ujar Syafrizal.Ketua Pecinta Alam Bahari (PAB) Darwis Muhammad Saleh Dalam Sambutannya mengatakan, bahwa acara bejamu laut ini sudah menjadi sebuah budaya yang mengandung nilai-nilai luhur, dan ritual ini dapat menjadi sebagai objek Wisata yang unik, seperti pada bulan Januari 2011 budaya ritual bejamu laut dilaksanakan untuk pertama kali di daearah laut Dumai bertempat di Desa Pendepul kelurahan Basilam Baru kecamatan Sungai Sembilan.
" Bejamu laut ini merupakan simbol kesadaran orang melayu terhadap laut sebagai tempat halaman mencari makan, diekspresikan lewat budaya bejamu laut atau menghidangkan sesajian yang dibuat oleh Datuk (Pawang) sebagai rabitah yang punca permohonan tetap kehadirat Allah SWT, agar alam laut sebagai lapak usaha dapat membawa berkah dengan hasil yang melimpah,"ujarnya.
Menurut dia, sejarah bejamu laut yang terkenal adalah ketika ritual tersebut dilaksanakan di daerah Tanjung Jati daerah Rupat kabupaten Bengkalis. Saat itu, ritual budaya bejamu laut dipimpin langsung oleh pemimpin armada pertahanan kerajaan Siak Sri Indrapura yang bernama Daeng Taugek atau yang lebih dikenal dengan nama Datuk Laksamana Raja Dilaut, ”jelasnya.
Ikut hadir pada kesempatan tersebut Ketua DPRD Kota Dumai, Zainal Effendi, Kepala Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Propinsi Riau, H. Irwan Effendi, Kepala Dinas Pariwisata, Eldar Efinta, Kapolres Dumai, Ristiawan Bulkani, pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Dumai, Camat dan Lurah, serta undangan dari perwakilan perusahaan BUMN dan swasta. (*/r1/Ocu)
TERPOPULER
-
Situs makam ini terletak di kawasan PT Pertamina UP II Dumai dijalan putri tujuh, dan merupakan situs wisata sejarah yang baru di kota Dumai...
-
Candi Muara Takus Riaugreen.com - Gugusan candi inni dikelilingi tembok setinggi satu meter seluas berukuran 74 x 74 meter. Setelah ...
-
foto : net RIAUGREEN.COM - Pengakuan bahwa bahasa Melayu yang menjadi teras bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu Riau, secara implisi...

